SIMALUNGUN |Update24News.id – Saat sebagian orang telah beristirahat menikmati malam bersama keluarga, Aipda Sujid Saputra justru masih berdiri di pinggiran Sungai Bah Bolon.

 

Dengan senter di tangan dan seragam yang mulai basah oleh embun malam, personel INAFIS Sat Reskrim Polres Simalungun itu tetap bertahan menjalankan tugas kemanusiaan demi mengungkap identitas seorang perempuan tanpa nama yang ditemukan meninggal dunia di aliran sungai tersebut.

Minggu (17/05/2026) malam itu menjadi saksi bagaimana dedikasi seorang anggota Polri diuji. Bersama rekannya, Aipda Owen Saragih, Aipda Sujid Saputra harus melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi yang gelap, berlumpur, dan penuh tantangan di Huta III Nagori Bah Lias, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun.

Mayat perempuan yang ditemukan warga dalam kondisi mengenaskan itu mengambang dan tersangkut di ranting pohon waru di pinggiran Sungai Bah Bolon. Kondisi jenazah yang telah membusuk membuat proses identifikasi menjadi jauh lebih sulit. Namun bagi Aipda Sujid Saputra, tugas bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian untuk memberikan kepastian bagi keluarga korban yang mungkin masih menunggu kabar.

“Kami tidak boleh menyerah dengan keadaan. Walaupun kondisi korban sangat memprihatinkan dan proses evakuasi cukup berat, kami tetap harus bekerja maksimal agar identitas korban bisa terungkap,” ucap Aipda Sujid Saputra dengan nada tenang.

Kasus penemuan mayat tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 16.00 WIB oleh dua nelayan, Heri Susanto (41) dan Nuriadi (35), yang sedang menjaring ikan di sepanjang Sungai Bah Bolon. Keduanya sontak terkejut saat melihat sesosok tubuh perempuan tersangkut di ranting pohon di tepian sungai.

Laporan itu kemudian diteruskan kepada pihak kepolisian. Kapolsek Bandar Huluan IPTU Patar Banjarnahor SH MH bersama personel langsung bergerak menuju lokasi untuk mengamankan TKP. Tidak lama berselang, Tim INAFIS Polres Simalungun tiba untuk melakukan pemeriksaan forensik.

Di tengah suasana malam yang sunyi, Aipda Sujid Saputra bersama tim tetap bekerja dengan teliti. Setiap detail diperiksa satu per satu. Dari tubuh korban, petugas menemukan pakaian berupa celana panjang hitam bergaris merah dan kaos lengan panjang warna merah muda yang masih melekat di tubuh korban.

Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat berat dan menyeramkan. Namun bagi Aipda Sujid Saputra, setiap korban tetap harus diperlakukan dengan hormat karena di balik tubuh yang tak bernyawa itu ada keluarga yang berharap kepastian.

“Kami ingin memastikan semua proses berjalan dengan baik. Tidak ada yang kami tinggalkan sebelum tugas selesai,” ungkapnya.

Proses evakuasi baru selesai sekitar pukul 20.30 WIB. Setelah itu, jenazah dibawa ke RSUD dr Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar untuk pemeriksaan lebih lanjut, termasuk visum dan autopsi guna mengetahui penyebab pasti kematian korban.

Kasi Humas Polres Simalungun AKP Verry Purba memberikan apresiasi atas dedikasi yang ditunjukkan personel INAFIS tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan Aipda Sujid Saputra menjadi gambaran nyata bagaimana anggota Polri hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelayan kemanusiaan.

“Di balik tugas berat yang dijalankan, ada rasa tanggung jawab dan kepedulian yang besar agar korban mendapatkan penanganan yang layak dan keluarganya bisa menemukan kepastian,” ujar AKP Verry Purba.

Polres Simalungun juga mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga atau memiliki informasi terkait identitas korban agar segera menghubungi Polsek Bandar Huluan maupun Polres Simalungun untuk membantu proses identifikasi.