Update24News.id, Simalungun – Puluhan Mahasiswa dan Orangtua Siswa/i yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Merdeka untuk Rakyat Geruduk Kantor Kejaksaan Negeri Simalungun, Jumat (12/9/2025).
Aksi unjuk rasa yang digelar didepan Kantor Kejari nyaris ricuh saat massa hendak menerobos masuk ke dalam gedung dengan membawa isu, “Pendidikan Kabupaten Simalungun Diamputasi: Jaksa Mandul, Segera Tangkap dan Adili Vendor.”
Aksi Unjuk rasa yang diawali Orasi tunggal Andry Napitupulu selaku pimpinan aksi menyampaikan bahwa kehadiran mereka tidak membawa senjata tajam.”Kami hadir tidak membawa senjata tajam, namun kami membawa kertas, Spanduk, Toa serta Narasi-narasi yang akan dikeluarkan melalui mulut. Aksi Unjuk rasa yang kami lakukan juga tidak berkaitan dengan kepentingan sepihak, orderan, titipan dan bahkan tekanan dari orang lain, tetapi kami hadir untuk kepentingan bersama dan masyarakat kabupaten Simalungun,” teriak Andry dengan lantang.
Sekitar sepuluh menit menyampaikan orasinya, kemudian puluhan massa aksi menyusul menghampiri pimpinan aksi dengan lantang menyampaikan narasi, Tidak ada Maaf bagi oknum – oknum yang merusak hingga mengamputasi dunia pendidikan di kabupaten Simalungun. Tangkap oknum tersebut,” ucap Gideon Surbakti.
Menurut Andry Napitupulu, Aksi Unjuk rasa yang dilakukan atas dugaan mandeknya laporan terkait dugaan penyalahgunaan wewenang dan tindak Pidana Korupsi kegiatan pengadaan seragam olahraga SD-SMP yang dinilai merugikan masyarakat, khususnya para orangtua siswa/i SD-SMP seluruh Sekolah di Kabupaten Simalungun.
“Adanya Aksi Unras ini atas dasar laporan yang sudah mandek 52 hari sampai hari ini belum menerima kepastian hukum. Adapun laporan GMMUR tertanggal 21 Juli 2025 dengan nomor surat : 09199/K/GMMUR/VII/2025 tentang Laporan Pengaduan Masyarakat terkait Dugaan Penyalahgunaan Wewenang dan Tindak Pidana Korupsi Kegiatan Pengadaan Seragam Olahraga SD-SMP seluruh Kabupaten Simalungun,” Ucap Andry dalam orasinya.
Pantauan dilokasi, Karena Kajari tak kunjung menemui pengunjuk rasa, akhirnya pimpinan aksi mengarahkan massa menerobos gerbang dan berhasil masuk walaupun nyari terjadi Kericuhan disaat massa menerobos gerbang tersebut. Massa juga membakar ban sebagai bentuk kekecewaan dan berkeliling sambil menyanyikan lagu ” buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota.”
Kemudian, Kasi Intel Kejari Simalungun menanggapi dan mengajak tiga orang perwakilan massa untuk menggelar Rapat dengar pendapat dengan Kajari dan langsung diliput oleh awak media.
Selanjutnya, massa aksi menerima usulan pihak kejaksaan dengan kesepakatan perwakilan massa 4 orang.
“Kami sepakat menerima tawaran, namun kami meminta untuk 4 orang perwakilan dan hasil RDP nantinya disampaikan melalui Konferensi Pers agar masyarakat kabupaten Simalungun mengetahuinya,” ujar Gideon Surbakti.
Pada Saat RDP itu, Andry Napitupulu selaku Pimpinan aksi mengajukan 3 pertanyaan untuk dijawab Kajari secara Substansi. Dengan memukul meja Andry berkata lantang, ‘Usut tuntas kasus ini, Tangkap vendor berinisial SB,WS dan WS dan kami minta hasil RDP di Publikasikan secara resmi melalui Konferensi Pers, Sepakat Kawan-kawan,” tegasnya.
Kemudian dilanjut Gideon, ‘mengapa masih Kepala Sekolah SMP N 1 Gunung Malela diperiksa? Apakah ini ada persekongkolan ? ini sudah 52 hari, kami minta kepastian kapan kasus ini selesai.’ -ujar Gideon Surbakti
Setelah 20 menit perwakilan massa aksi RDP bersama Irfan Hergianto selaku Kepala Kejaksaan Negeri Simalungun, Bapak Edison Situmorang Kasi Intel Kejaksaan bersama rekan jaksa lainnya.
Adapun Hasil RDP tersebut. Pertama, Bapak Irfan Hergianto selaku Kepala Kejaksaan Simalungun bersedia di awasi setiap minggu terkait laporan GMMUR. Kedua, Pihak Kejari Simalungun akan meminta klarifikasi Bupati Simalungun atas “pengatasnamaan dirinya dalam upaya pelaksanaan kasus ini”. Ketiga, Kepala Kejaksaan Negeri menjanjikan kami akan selesaikan kasus ini pada tanggal 17 Oktober 2025, ‘Beri kami waktu untuk lebih melengkapi bucket data ini,”ujar Bapak Irfan Hergianto.
Diakhir, Andry Napitupulu menyampaikan ucapan terimakasih kepada rekan-rekannya massa aksi karena masih semangat dalam perjuangan ini.
“Hingga hasil hari ini kita menang mencapai tujuan aksi kita, namun menang bukan berarti berakhir perjuangan kita,” Tutup Andry Sambil membubarkan Massa Aksi dengan tertib.




