PEMATANGSIANTAR | Update24News.id – Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, S.H., M.Kn didampingi Ketua TP PKK Ny. Liswati Wesly Silalahi bersama Forkopimda Plus menghadiri Haul ke-112 Raja Sang Naualuh Damanik yang digelar di Masjid Raya Pematangsiantar, Jalan Masjid, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat, Kamis (23/04/2026) malam.
Kegiatan ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya haul Raja Sang Naualuh Damanik dilaksanakan di Masjid Raya, yang memiliki keterkaitan erat dengan sosok raja tersebut.
Dalam sambutannya, Wesly Silalahi menegaskan bahwa haul bukan sekadar mengenang wafatnya seorang tokoh, melainkan momentum untuk meneladani nilai-nilai perjuangan, kepemimpinan, dan pengabdian.
“Raja Sang Naualuh Damanik adalah sosok pemimpin yang dikenal karena keberanian, kebijaksanaan, serta komitmennya dalam menjaga persatuan, nilai adat, dan keharmonisan masyarakat. Nilai-nilai ini harus kita warisi dan implementasikan dalam kehidupan saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan haul setiap tahun menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Pematangsiantar serta bentuk penghormatan terhadap jasa para leluhur yang telah meletakkan dasar pembangunan dan kebersamaan.
Wesly juga mengajak generasi muda untuk menggali sejarah dan kearifan lokal sebagai upaya memperkuat jati diri masyarakat yang berbudaya dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
Sementara itu, ahli waris Raja Sang Naualuh Damanik, Tuan Difi Sang Nuan Damanik, mengungkapkan kebanggaannya sebagai cicit dari Raja Siantar XIV tersebut.
Ia juga menyoroti fakta historis bahwa tanah Masjid Raya Pematangsiantar merupakan wakaf dari Raja Sang Naualuh Damanik.
“Saya baru mengetahui bahwa tanah Masjid Raya ini merupakan wakaf dari kakek buyut saya. Ini menjadi kebanggaan tersendiri, sekaligus bukti bahwa beliau memiliki perhatian besar terhadap seluruh masyarakat, tanpa membedakan agama,” ungkapnya.
Menurutnya, Raja Sang Naualuh Damanik tidak hanya mewakafkan tanah untuk umat Muslim, tetapi juga memberikan kontribusi bagi masyarakat lintas agama.
Hal inilah yang menjadi fondasi kuat lahirnya predikat Pematangsiantar sebagai kota toleransi.
Ia pun mengapresiasi capaian Kota Pematangsiantar yang berhasil meraih peringkat keempat dalam Indeks Kota Toleran (IKT) di Indonesia, serta berharap nilai-nilai tersebut terus dipertahankan.
Ketua Badan Kenaziran Masjid (BKM) Masjid Raya Pematangsiantar, Prof. Dr. Ir. Harmein Nasution, MSi, menjelaskan bahwa tanah Masjid Raya diwakafkan pada tahun 1906 oleh Raja Sang Naualuh Damanik kepada masyarakat, yang saat itu diterima oleh tokoh masyarakat Tuan Syech H. Abdul Jabbar Nasution dan Pangulu Hamzah Daulay.
Masjid tersebut mulai digunakan untuk salat Jumat pada tahun 1911 dan termasuk salah satu dari tujuh masjid bersejarah di Indonesia.
“Haul ini penting karena mengingatkan kita pada dampak besar yang ditinggalkan oleh beliau dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai kepemimpinan Raja Sang Naualuh Damanik perlu terus dikaji dan diwariskan,” ujar Harmein.
Ia juga mendorong agar sejarah dan kepemimpinan Raja Sang Naualuh Damanik didokumentasikan dalam bentuk buku serta dijadikan bahan ajar di sekolah, sekaligus dikembangkan sebagai potensi wisata religius Kota Pematangsiantar.
Kegiatan ini turut menghadirkan narasumber akademisi Drs. Shohibul Anshor Siregar, M.Si yang memaparkan sejarah Raja Sang Naualuh Damanik.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Herlina, Kapolres Pematangsiantar AKBP Sah Udur Togi Marito Sitinjak, Dandim 0207/Simalungun Letkol Inf Gede Agus Dian Pringgana, perwakilan Bank Indonesia, tokoh agama, pimpinan OPD, serta unsur masyarakat lainnya. (*)




