PEMATANGSIANTAR, Update24News.id – Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, S.H., M.Kn, bersama sejumlah tokoh agama menerima kunjungan tim peneliti SETARA Institute di rumah dinas Wali Kota, Jalan MH Sitorus, Kelurahan Teladan, Kecamatan Siantar Barat, Kamis (9/7/2026) siang.
Pertemuan tersebut membahas penguatan Indeks Kota Toleran (IKT) serta upaya memperkuat kebijakan yang mendukung kehidupan masyarakat yang inklusif, harmonis, dan bebas dari diskriminasi.
Dalam sambutannya, Wesly menegaskan bahwa Pemerintah Kota Pematangsiantar memandang IKT bukan sekadar penilaian atau pemeringkatan, melainkan instrumen evaluasi untuk mengukur sejauh mana kebijakan, tata kelola pemerintahan, dan kehidupan sosial mampu menciptakan ruang yang inklusif bagi seluruh masyarakat.
Karena itu, Pemko Pematangsiantar menyambut baik penelitian yang dilakukan SETARA Institute dan berharap hasilnya dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan ke depan.
“Kami berharap hasil penelitian ini memberikan rekomendasi dan perspektif yang konstruktif bagi Pemerintah Kota Pematangsiantar dalam memperkuat kebijakan, program, dan strategi pembangunan yang berorientasi pada penguatan toleransi, kerukunan, serta perlindungan hak-hak seluruh masyarakat,” ujar Wesly.
Ia mengungkapkan, berdasarkan penilaian IKT Tahun 2025, Kota Pematangsiantar menempati peringkat keempat secara nasional, meningkat dari posisi kelima pada tahun sebelumnya.
“Pencapaian ini membuktikan komitmen kuat pemerintah daerah dalam membangun toleransi di Kota Pematangsiantar,” katanya.
Wesly juga menyampaikan bahwa Ranperda tentang Penyelenggaraan Toleransi Kehidupan Bermasyarakat telah diajukan ke Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Pematangsiantar dan diharapkan dapat disahkan menjadi peraturan daerah pada tahun ini.
Selain itu, pemerintah juga mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menyelenggarakan berbagai program yang memperkuat nilai-nilai toleransi.
Menurut Wesly, keberhasilan Kota Pematangsiantar menjaga predikat sebagai kota toleran merupakan hasil kolaborasi seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), akademisi, hingga seluruh pemangku kepentingan yang terus menjaga harmoni sosial.
Ia pun mengajak seluruh pihak menjadikan momentum tersebut sebagai sarana memperkuat sinergi dalam mewujudkan Pematangsiantar sebagai kota yang semakin toleran, inklusif, dan berkeadilan tanpa membedakan latar belakang agama, suku, ras, etnis, maupun budaya.
Sementara itu, Ketua FKUB Kota Pematangsiantar yang juga Ketua MUI Kota Pematangsiantar, Drs HM Ali Lubis, mengatakan kerukunan umat beragama di Kota Pematangsiantar telah terbangun dengan sangat baik.
Menurutnya, selama menjabat Ketua FKUB, seluruh kegiatan lintas agama selalu mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah, termasuk kunjungan bersama ke rumah-rumah ibadah.
Ali menyebut Kota Pematangsiantar sebagai “Indonesia mini” karena keberagaman masyarakatnya mampu hidup berdampingan secara damai tanpa konflik agama.
Ia berharap tim SETARA Institute dapat melihat langsung kondisi tersebut sehingga nilai Indeks Kota Toleran Pematangsiantar terus meningkat pada masa mendatang.
Tim Peneliti SETARA Institute, Sayyidatul Insiyah yang didampingi Okki Kawasa, menjelaskan kunjungan tersebut bertujuan melihat secara langsung dampak hasil riset Indeks Kota Toleran di Kota Pematangsiantar, termasuk kaitannya dengan pembangunan ekonomi.
Pihaknya juga berharap dapat berdiskusi lebih mendalam mengenai implementasi dan dampak IKT di daerah.
Acara diakhiri dengan pertukaran cenderamata antara Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Tim SETARA Institute.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut para asisten, staf ahli, pimpinan OPD, camat, perwakilan Kantor Kementerian Agama Kota Pematangsiantar, serta sejumlah tokoh agama.





