MEDAN |Update24News.id — Tangis seorang ibu pecah saat menceritakan nasib keluarganya yang kini hidup dalam ketakutan setelah suaminya, seorang wartawan media online di Kota Medan, bersama adik-adiknya yang juga berprofesi sebagai wartawan, justru ditetapkan sebagai tersangka, dipenjara hingga masuk daftar pencarian orang (DPO) usai menangkap terduga pelaku pencurian di toko ponsel milik mereka sendiri.

Didampingi dua anaknya yang masih kecil, perempuan itu tak mampu membendung air mata ketika memohon bantuan dan keadilan kepada Prabowo Subianto, pimpinan DPR RI, Komisi III DPR RI hingga Kapolri Listyo Sigit Prabowo agar memberi perhatian terhadap perkara yang menimpa keluarganya.

Dengan suara bergetar, ia mengaku kehidupan keluarganya berubah drastis sejak kasus tersebut bergulir. Rumah yang dulu dipenuhi tawa anak-anak kini berubah menjadi tempat penuh kecemasan dan ketakutan.

“Anak-anak saya masih kecil. Mereka sering menangis mencari ayahnya. Mereka bertanya kenapa ayahnya dikejar-kejar seperti teroris, padahal ayahnya hanya mempertahankan usaha keluarga kami,” ucapnya sambil memeluk kedua anaknya.

Menurut keluarga, persoalan bermula pada 22 September 2025 ketika isi brankas toko ponsel milik mereka diduga dicuri oleh dua teknisi handphone yang baru sekitar dua minggu bekerja di tempat usaha tersebut.

Kehilangan itu disebut sangat memukul kondisi ekonomi keluarga karena usaha kecil tersebut menjadi sumber utama penghidupan mereka sehari-hari.

“Semua hasil kerja keras kami ada di toko itu. Kami bukan orang berada. Usaha itu kami bangun sedikit demi sedikit demi masa depan anak-anak,” katanya lirih.

Setelah mengetahui adanya dugaan pencurian, keluarga berusaha mencari keberadaan pelaku. Dengan bantuan salah satu pekerja, mereka mengaku berhasil mengetahui lokasi terduga pelaku di Hotel Kristal, Jalan Jamin Ginting, Kota Medan, pada 23 September 2025.

Sebelum melakukan penangkapan, keluarga mengaku sempat berkoordinasi dengan penyidik Polsek Pancur Batu yang menangani laporan pencurian tersebut. Namun menurut pengakuan mereka, pihak keluarga justru diminta menangkap sendiri pelaku dan polisi disebut ikut bersama mereka.

“Kami percaya kepada aparat. Kami pikir kami dibantu mencari keadilan karena kami korban pencurian. Tapi setelah pelaku ditangkap, justru keluarga kami yang diproses hukum,” ujarnya sambil menangis.

Perempuan itu mengaku tak pernah membayangkan upaya mempertahankan usaha keluarga justru berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan.

Usai kejadian tersebut, suaminya bersama anggota keluarga lain malah dilaporkan, dipenjara bahkan beberapa di antaranya masuk DPO. Sejak saat itu, hidup keluarga mereka disebut hancur dan tak pernah lagi merasa tenang.

Anak-anak mereka yang masih kecil kini tumbuh dalam tekanan mental dan rasa takut berkepanjangan. Bahkan, menurut pengakuannya, anak-anak sering menangis setiap melihat mobil polisi melintas atau berhenti di sekitar rumah.

“Setiap ada kendaraan berhenti di depan rumah, anak-anak langsung ketakutan. Mereka pikir mau menangkap mereka juga. Saya sebagai ibu tidak sanggup melihat kondisi mereka seperti ini,” katanya dengan suara bergetar.

Ia mengatakan suaminya hanyalah wartawan media online sekaligus tulang punggung keluarga yang bekerja keras mengurus usaha demi menghidupi istri dan anak-anaknya.

“Kami bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan orang punya kekuasaan. Kami hanya rakyat kecil yang bekerja siang malam supaya anak-anak bisa sekolah dan makan dengan layak. Tapi sekarang hidup kami seperti dihancurkan,” tuturnya.

Selain tekanan mental, kondisi ekonomi keluarga juga disebut semakin terpuruk sejak kasus tersebut bergulir. Usaha toko ponsel mereka bahkan disebut tutup total akibat persoalan hukum yang terus berjalan.

Keluarga juga mengaku beberapa kali harus berpindah tempat tinggal karena terus dibayangi rasa takut. Anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecil bersama ayahnya kini justru hanya melihat ibunya menangis hampir setiap hari.

“Anak-anak seharusnya bermain dan belajar dengan tenang bersama ayahnya. Tapi sekarang mereka hanya melihat ibunya sedih dan ketakutan setiap hari,” ujarnya lirih.

Keluarga mengaku telah berulang kali mengirim surat permohonan keadilan kepada berbagai lembaga negara mulai dari Presiden RI, DPR RI, Komisi III DPR RI hingga Mabes Polri dengan harapan ada perhatian serius terhadap perkara yang mereka alami.

“Kami memohon kepada Bapak Prabowo Subianto dan DPR RI serta seluruh pimpinan negara, tolong bantu keluarga kami. Anak-anak kami butuh ayahnya. Kami ingin keluarga kami kembali seperti dulu, hidup normal dan mendapatkan keadilan,” ucapnya sambil memeluk kedua anaknya erat-erat.

Suasana haru semakin terasa ketika kedua anak korban hanya terdiam sambil menggenggam tangan ibunya yang terus menangis.

Di akhir pernyataannya, keluarga berharap kasus tersebut menjadi perhatian serius agar tidak ada lagi masyarakat kecil yang merasa menjadi korban namun justru menghadapi tekanan hukum berkepanjangan.

“Kami hanya ingin diperlakukan adil. Jangan sampai rakyat kecil yang menjadi korban malah merasa sendirian mencari keadilan di negeri sendiri. Kami berharap persoalan ini dapat dibahas di RDP Komisi III DPR RI secara transparan,” tutupnya.

Keluarga juga mengungkap bahwa setelah kasus tersebut viral, salah satu anggota keluarga bernama Persadaan Putra yang juga berprofesi sebagai wartawan akhirnya memperoleh penangguhan penahanan yang menurut mereka terjadi setelah adanya perhatian dari Ketua Komisi III DPR RI.

Usai penangguhan itu, keluarga mengaku diundang Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvin Simanjuntak untuk bertemu di sebuah kafe di kawasan Medan Petisah.

Menurut pengakuan keluarga, dalam pertemuan tersebut Kapolrestabes Medan meminta agar persoalan itu tidak lagi diviralkan dan berjanji akan membantu menyelesaikan kasus tersebut.

“Kami diminta menunggu satu atau dua minggu. Mendengar janji itu, kami percaya dan berharap masalah ini selesai,” ungkap keluarga.

Namun setelah dua minggu berlalu, keluarga mengaku perkara tersebut tidak juga selesai. Mereka kemudian kembali mempertanyakan perkembangan kasus tersebut kepada Kapolrestabes Medan.

“Kami disuruh mendatangi keluarga korban pencurian dan meminta maaf kepada mereka. Tapi kami keberatan karena sebelumnya kami pernah diteriaki maling saat datang ke rumah mereka di Sidikalang dengan niat ingin menyelesaikan persoalan secara baik-baik,” lanjutnya.

Keluarga juga mengaku Kapolrestabes Medan sempat menyampaikan bahwa apabila perkara tersebut tidak dapat diselesaikan melalui restorative justice (RJ), maka masih ada alternatif lain yang akan diupayakan.

Namun di tengah harapan itu, keluarga justru mengaku terkejut karena berkas perkara Persadaan Putra dinyatakan lengkap atau P21 di kejaksaan.

“Kami merasa dipermainkan dan dibohongi. Kami sudah percaya dan menunggu janji penyelesaian, tapi tiba-tiba berkas adik kami malah dikirim ke jaksa dan sudah P21. Sampai hari ini kami masih berharap ada keadilan,” tutup keluarga penuh kesedihan.