PEMATANGSIANTAR | Update24News.id – Mantan aktivis mahasiswa Pematangsiantar-Simalungun, Andry Napitupulu, SH, menyampaikan pandangannya terhadap kondisi politik dan ekonomi nasional saat ini serta mengajak mahasiswa dan elemen masyarakat sipil untuk bersatu menyuarakan aspirasi demi menyelamatkan Indonesia, Jumat (19/6/2026).
Menurut Andry, berbagai persoalan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat, mulai dari kebijakan pemerintah, konflik agraria, hingga lambannya penanganan pascabencana, telah memunculkan ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah pusat maupun daerah.
“Jika hari ini mahasiswa bergerak, yakinlah bahwa ini adalah pemantik awal. Gerakan mahasiswa dan rakyat akan bersatu melakukan perlawanan terbuka terhadap rezim yang dinilai menyengsarakan masyarakatnya sendiri,” ujar Andry.
Ia juga meyakini para pimpinan perguruan tinggi di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun tidak akan tinggal diam melihat kondisi bangsa saat ini. Menurutnya, dukungan dari birokrasi kampus penting agar mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi secara terbuka bersama elemen masyarakat sipil.
Dalam pernyataannya, Andry menyampaikan sejumlah tuntutan yang dibagi dalam skala nasional, regional Sumatera Utara, hingga tingkat lokal di Kabupaten Simalungun dan Kota Pematangsiantar.
Tuntutan Nasional
Pada tingkat nasional, Andry mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), meninjau kembali Undang-Undang Kepolisian RI, memperkuat supremasi sipil, menjaga stabilitas ekonomi nasional, menjamin hak pendidikan yang inklusif dan terjangkau, serta meninjau kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Soroti Penanganan Bencana di Sumatera Utara
Untuk tingkat regional, ia menilai pemerintah pusat perlu bertanggung jawab atas lambannya mitigasi dan pemulihan bencana alam di Sumatera Utara serta memastikan keadilan bagi masyarakat terdampak.
Desak Penyelesaian Persoalan di Simalungun
Di Kabupaten Simalungun, Andry meminta pemerintah daerah segera memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk penyelesaian dugaan kekerasan terhadap masyarakat adat di Sihaporas yang dikaitkan dengan PT Toba Pulp Lestari (TPL), serta menghentikan proyek replanting kebun teh menjadi kelapa sawit di kawasan Sidamanik yang dinilai berpotensi merusak ekosistem dan identitas daerah.
Angkat Sejumlah Persoalan di Pematangsiantar
Sementara itu, untuk Kota Pematangsiantar, ia menyoroti sejumlah persoalan, antara lain kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Pinggir, mangkraknya pembangunan Gedung IV Pasar Horas, penegakan hukum terhadap kasus penganiayaan di kawasan Taman Bunga yang diduga melibatkan oknum anggota organisasi kemasyarakatan, serta perlunya kepastian bantuan bagi para pedagang korban kebakaran Pasar Parluasan.
Andry menegaskan, apabila aspirasi masyarakat tidak lagi mendapat perhatian dari pemerintah, maka menurutnya mosi tidak percaya dari rakyat akan semakin menguat.
“Bila rakyat digilas, hanya ada satu kata: lawan. Reformasi Jilid Dua bukanlah kemunduran, melainkan keharusan sejarah ketika penguasa tuli terhadap jeritan rakyat. Semakin ditekan, semakin melawan,” pungkasnya.





