SIMALUNGUN |Update24News.id – Sebuah kegelisahan yang berubah menjadi ketakutan kini menghantui seorang ibu di Kabupaten Simalungun. Evi Verawaty Siahaan (47) tak pernah menyangka, pagi yang tampak biasa pada Sabtu, 2 Mei 2026, menjadi awal hilangnya sang putri tercinta, Nadine Adeline Hutagaol (16), yang hingga kini tak diketahui rimbanya.
Dengan langkah gemetar dan hati penuh kecemasan, Evi akhirnya mendatangi Polsek Bandar Huluan pada Selasa malam, 5 Mei 2026, pukul 21.59 WIB. Ia melaporkan anak gadisnya yang pergi tanpa pamit dan tak kunjung kembali selama tiga hari.
Kehilangan ini bukan sekadar kabar orang hilang, ini tentang seorang remaja yang lenyap di siang bolong, tanpa jejak, tanpa kabar.
Pagi itu, sekitar pukul 09.30 WIB, Nadine terlihat seperti biasa. Ia baru selesai mandi dan berada di kamarnya. Saat ditanya ibunya hendak ke mana, jawabannya singkat: tidak ke mana-mana. Namun hanya berselang setengah jam, sekitar pukul 10.00 WIB, kamar itu mendadak kosong. Nadine hilang.
Kecurigaan langsung menyergap. Sang ibu bergegas mencari, menyisir lokasi yang mungkin didatangi anaknya, termasuk loket angkutan umum Sinar Bangun di Jalan Merdeka Perdagangan. Hasilnya nihil.
Satu-satunya petunjuk datang dari seorang saksi, Samuel Sinaga (20), yang mengaku sempat melihat Nadine berjalan menuju loket Perdagangan Trans. Namun setelah itu, jejaknya seolah terputus. Menghilang begitu saja.
Hari berganti, pencarian mandiri keluarga tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya laporan resmi dilayangkan ke pihak kepolisian.
Polsek Bandar Huluan tak menunggu lama. Begitu laporan diterima, aparat langsung bergerak. Prosedur dijalankan, data dihimpun, dan pencarian mulai dilakukan.
Kapolsek Bandar Huluan, IPTU Patar Banjarnahor, memastikan pihaknya menangani kasus ini secara serius. Sementara itu, Kasi Humas Polres Simalungun, AKP Verry Purba, menegaskan bahwa setiap laporan orang hilang menjadi prioritas.
“Ini bukan sekadar laporan, ini soal keselamatan seorang anak. Kami bergerak cepat,” tegasnya.
Nadine diketahui memiliki tinggi sekitar 170 cm, berat badan 58 kg, kulit sawo matang, mata hitam, dan rambut panjang hingga pinggang. Ciri-ciri ini kini menjadi harapan terakhir untuk dikenali siapa pun yang mungkin melihatnya.
Di balik semua itu, ada seorang ibu yang terus menunggu. Menunggu kabar. Menunggu keajaiban. Menunggu anaknya pulang.
Polisi pun mengajak masyarakat untuk tidak diam. Setiap informasi, sekecil apa pun, bisa menjadi kunci.
Karena di luar sana, seorang gadis 16 tahun masih hilang. Dan waktu terus berjalan.
Editor: Galung




