Pematangsiantar | Update24News.id – -Momentum peringatan Hari Bumi Internasional 2026 tidak sekadar seremoni bagi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar–Simalungun. Di tengah meningkatnya krisis lingkungan, GMKI justru mengangkat seruan moral: saatnya “pertobatan ekologis” menjadi gerakan nyata, kamis (23/4).
GMKI menilai, kondisi bumi saat ini tidak sedang baik-baik saja. Kerusakan lingkungan, perubahan iklim, buruknya tata kelola sampah, hingga eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan telah menjadi ancaman nyata, bukan lagi sekadar wacana.
Berpijak pada nilai iman, GMKI mengingatkan kembali mandat manusia terhadap alam. Dalam Mazmur 24:1 ditegaskan bahwa bumi adalah milik Tuhan, sementara Kejadian 2:15 menegaskan tanggung jawab manusia untuk mengusahakan sekaligus memelihara ciptaan. Artinya, manusia bukan pemilik mutlak, melainkan penjaga yang harus bertanggung jawab.
Realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sepanjang 2025 Indonesia masih didominasi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan, serta cuaca ekstrem—indikasi nyata bahwa krisis iklim telah hadir di depan mata.
Di tingkat daerah, BPBD Sumatera Utara mencatat 623 kejadian bencana sepanjang 2025 di 33 kabupaten/kota. Kebakaran hutan dan lahan mendominasi dengan 232 kejadian, disusul cuaca ekstrem, banjir, dan longsor.
Kabupaten Simalungun tercatat mengalami sekitar 46 kejadian bencana, sementara Pematangsiantar mencatat sekitar 14 kejadian dalam periode yang sama. Bahkan pada April 2026, banjir kembali melanda sejumlah titik di Pematangsiantar akibat hujan deras dan drainase yang tersumbat sampah—menjadi bukti nyata bahwa persoalan lingkungan belum tertangani secara serius.
Sekretaris GMKI Siantar–Simalungun, Flora Simbolon, menegaskan bahwa situasi ini tidak boleh dianggap normal.
“Krisis ekologis terjadi karena manusia gagal menjaga keseimbangan dengan alam. Karena itu, dibutuhkan pertobatan ekologis—perubahan cara hidup, dari merusak menjadi merawat, dari abai menjadi peduli, dari eksploitatif menjadi bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia juga mengutip Roma 8:22 sebagai refleksi spiritual bahwa seluruh ciptaan sedang “mengeluh” dan menantikan pemulihan—sebuah gambaran kuat atas penderitaan alam akibat ulah manusia.
Senada, Ketua GMKI Siantar–Simalungun, Yova Ivo Cordiaz Purba, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak berhenti pada kesadaran, tetapi bergerak dalam aksi konkret. Di antaranya mengurangi plastik sekali pakai, menanam dan merawat pohon, menjaga sungai dan drainase, mengawal kebijakan pembangunan berkelanjutan, serta menolak segala bentuk perusakan lingkungan.
GMKI menegaskan, peringatan Hari Bumi harus menjadi titik balik kesadaran kolektif. Bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk bergerak bersama menyelamatkan bumi demi masa depan yang adil, sehat, dan berkelanjutan.
“Salam Bumi, Salam Lestari.”




