MEDAN |Update24News.id – Aroma tak sedap dari tubuh PT Bank Sumut kian menyengat. Retaknya hubungan di level elite manajemen kini tak lagi bisa ditutup-tutupi, setelah Direktur Kepatuhan memilih mundur dari jabatannya.

Mundurnya Direktur Kepatuhan merupakan sebuah langkah yang dinilai bukan sekadar personal, melainkan sinyal keras adanya krisis internal.

Sebelumnya, Kabar mundurnya Direktur Kepatuhan, Eksir dari jabatannya itu dibenarkan oleh Humas Bank Sumut, Jalaludin Ibrahim.

“Iya, beliau mengajukan pengunduran diri. Soal alasan silakan konfirmasi langsung ke beliau,” ujarnya singkat.

Jawaban ini dinilai jauh dari cukup. Sebab, posisi Direktur Kepatuhan bukan jabatan biasa, melainkan pilar utama dalam menjaga integritas, kepatuhan regulasi, serta mencegah potensi pelanggaran di tubuh perbankan.

Alih-alih membuka transparansi, pihak bank Sumut malah terkesan memilih menutup rapat alasan mundurnya pejabat yang memegang fungsi pengawasan paling vital tersebut.

Situasi inipun memantik reaksi keras dari Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Sumatera Utara (HIPMA Sumut).

Mereka secara terbuka mendesak Gubernur Sumatera Utara selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) untuk segera turun tangan dan mencopot Direktur Utama Bank Sumut.

 

Bagi HIPMA, mundurnya pejabat kunci di sektor kepatuhan bukan peristiwa biasa. Ini dianggap sebagai puncak gunung es dari konflik internal yang telah lama bergejolak di tubuh bank milik daerah tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Lewat Iskandar Muda Harahap, HIPMA menilai Direktur Utama gagal menjaga soliditas tim di level strategis.

Ketidakharmonisan di lingkaran direksi dinilai berbahaya, bukan hanya bagi stabilitas internal, tetapi juga berpotensi menggerus kepercayaan publik.

 

“Kalau di dalam saja sudah tidak solid, bagaimana mereka mengelola dana masyarakat?, Ini bukan sekadar konflik personal, ini menyangkut tata kelola dan kredibilitas lembaga,” tegas Iskandar Muda Harahap, Jumat (10/4).

 

Lanjut Iskandar, Direktur Kepatuhan yang seharusnya menjadi benteng terakhir dalam menjaga integritas dan kepatuhan regulasi, justru memilih mundur.

 

Keputusan yang diambil Eksir ini menimbulkan pertanyaan serius, ada apa sebenarnya di balik meja direksi?.

Atas dasar itu, HIPMA Sumut menyodorkan tiga tuntutan tegas agar gubernur Sumut mengevaluasi total kinerja Direktur Utama yang dinilai gagal menciptakan iklim kerja profesional dan stabil.

Pencopotan Dirut menurut mereka sebagai bentuk tanggung jawab atas terganggunya stabilitas manajemen.

 

Dan yang ketiga, Meminta Transparansi penuh terkait mundurnya Direktur Kepatuhan, agar publik tidak dibiarkan berspekulasi liar.

 

Masih menurut Iskandar, dengan isu itu Kepercayaan Publik Dipertaruhkan. Sebab, Bank Sumut bukan sekadar institusi bisnis, melainkan simbol kepercayaan masyarakat Sumatera Utara. Retaknya manajemen di pucuk pimpinan berpotensi menjadi bom waktu jika tidak segera ditangani.

 

“Kini, bola panas berada di tangan Gubernur. Diam berarti membiarkan krisis membesar. Bertindak berarti menyelamatkan kepercayaan publik sebelum benar-benar runtuh,” tandasnya.

 

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi terkait alasan pengunduran diri Eksir maupun siapa yang akan mengisi posisi strategis tersebut.

 

Sampai berita ini diturunkan, Eksir sendiri juga belum memberikan pernyataan terkait kabar pengunduran dirinya itu.

Penulis: IMH/Tim Redaksi.