PEMATANGSIANTAR |Update24News.id – Suasana khidmat menyelimuti peringatan Jumat Agung di Kota Pematangsiantar. Ribuan umat Katolik mengikuti prosesi Jalan Salib untuk mengenang wafatnya Yesus Kristus, Jumat (03/04/2026) pagi.

Kegiatan yang dimulai dari Tugu Sang Naualuh Damanik hingga berakhir di depan Balai Kota di Jalan Merdeka itu berlangsung penuh penghayatan, diiringi doa dan nyanyian pujian.

Wali Kota Wesly Silalahi yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa Jumat Agung merupakan momen sakral untuk merenungkan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.

“Peristiwa ini bukan sekadar sejarah, tetapi pengingat tentang cinta kasih Allah, pengampunan, dan ketaatan. Yesus menjadi teladan kasih dan pengampunan yang sempurna,” ujarnya dalam sambutan.

Mengusung tema “Di Balik Kayu Salib, Ada Cinta yang Tidak Pernah Habis”, devosi Jalan Salib diikuti umat dari berbagai paroki se-Kota Pematangsiantar. Dalam kesempatan itu, Wesly mengajak masyarakat meneladani semangat pengorbanan Yesus dengan melayani sesama secara tulus.

“Melalui peringatan ini, mari kita tingkatkan iman dan pengabdian, serta tidak menyimpan dendam kepada siapa pun,” ucapnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga toleransi dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

“Jumat Agung mengajarkan bahwa kasih melampaui segala perbedaan. Mari terus pelihara persaudaraan di kota yang kita cintai ini,” tambahnya.

Wesly menegaskan, Pemerintah Kota Pematangsiantar berkomitmen mendukung kebebasan beribadah serta menjamin hak setiap warga negara untuk menjalankan keyakinannya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) sekaligus pimpinan DPRD Kota Pematangsiantar, Daud Simanjuntak, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.

Ia berharap prosesi Jalan Salib dapat dimaknai sebagai refleksi atas pengorbanan Yesus demi keselamatan manusia, sekaligus menjadi momentum pembaruan hidup.

Vikaris Episkopal Keuskupan Agung Medan Area Pematangsiantar, Pastor Amrosius Nainggolan, menegaskan bahwa Jalan Salib bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan panggilan untuk merenungkan penderitaan Yesus akibat dosa manusia.

Prosesi berlangsung tertib dengan pengamanan dari pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan. Para peserta secara bergantian memanggul kayu salib sepanjang rute perjalanan.

Kegiatan ditutup dengan adegan penyaliban di depan Balai Kota, yang semakin memperdalam suasana refleksi dan penghayatan umat dalam menyambut perayaan Paskah.